Mix Hot »»»

  • Berita6.tk
  • 13 Mitos & Fakta Seputar Lemah Syahwat

    ·
    Buzz this!

    Pria seringkali menerima informasi yang salah tentang persoalan lemah syahwat atau disfungsi ereksi (impotensi) dan secara sembunyi mencari penyebab serta upaya penyembuhannya.
    Free Image Hosting
    Memahami kenyataan tentang disfungsi ereksi adalah komponen penting dalam upaya menghilangkan hambatan untuk mencari kesembuhan,karena banyak hal yang selama ini menjadi mitos disfungsi ereksi.
    Disfungsi ereksi adalah kondisi dimana pria tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang optimal untuk mencapai performa atau kepuasan seksual.
    Jika dulu masalah disfungsi ereksi tabu untuk dibicarakan, tetapi kini pria semakin mau berdiskusi dan mencari solusi terapi pengobatannya.
    Survei kesehatan seksual telah dilakukan terhadap pria dan wanita di Asia Pasifik pada bulan Mei sampai Juli 2008. Survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (AP SHOW) dilakukan di 13 negara terhadap 2016 pria dan 1941 wanita, di Indonesia sendiri dilakukan pada 578 pria dan wanita.
    Berikut beberapa mitos seputar disfungsi ereksi :
    1. Mitos : Kesulitan ereksi adalah hilangnya ketertarikan seks, atau kehilangan tenaga atau mandul
    Fakta : Sebagian pria dengan kesulitan ereksi masih memiliki gairah dan keinginan untuk mendapat orgasme, dan mengalami ejakulasi cairan semen.
    Kesulitan ereksi terkait dengan kemampuan membuat atau mempertahankan ereksi dan tidak berarti kehilangan keinginan dalam seksual atau menjadi mandul.

    2. Mitos: Pria ingin selalu, dan selalu siap untuk melakukan hubungan seksual
    Fakta: Pria selalu siap, mampu dan bisa melakukan hubungan seksual tidak sesederhana tampaknya. Dalam kehidupan nyata, kelelahan fisik atau berpikir keras mengenai pekerjaan dan keluarga bisa mempengaruhi gairah pria dan kegiatan seksualnya.
    3. Mitos: 'Pria Sejati' tidak mengalami kesulitan ereksi
    Fakta: Banyak pria pada suatu waktu dalam kehidupannya akan mengalami kesulitan ereksi atau mempertahannya. Hal ini dapat muncul seiring petambahan usia, ras atau etnis, perilaku budaya dan kebiasaan serta keyakinannya.
    Sesekali memiliki kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi bukan merupakan masalah. Tetapi jika persoalan ini terus berlanjut, maka akan mempengaruhi hubungan pribadi dan menjadi masalah bersama dengan pasangan.

    4. Mitos: Kesulitan ereksi adalah masalah pribadi
    Fakta: Disfungsi ereksi sesungguhnya sering terjadi pada siapapun. Menurut American Medical Association, 10 persen dari pria mengalami disfungsi ereksi yang menetap.
    Sebagai tambahan, ada sejumlah pria yang tidak mengalami disfungsi ereksi ternyata mengalami ereksi yang sub optimal.

    5. Mitos: Disfungsi ereksi adalah lumrah dalam proses penuaan
    Fakta: Disfungsi ereksi tidak harus dianggap sebagai hal yang normal untuk semua pria usia berapapun. Sekalipun mungkin pria yang lebih senior membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terangsang dan mungkin membutuhkan stimulasi fisik.
    Sekalipun disfungsi ereksi kerap terjadi pada pria usia tua, tetapi bukan berarti disfungsi ereksi adalah proses dari penuaan. Bagaimanapun, disfungsi ereksi juga kerap terjadi pada pria yang berusia muda.
    Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, dan berada dalam pengawasan penyakit kronis seperti gagal ginjal, penyakit jantung atau diabetes dapat menurunkan risiko pria mengalami disfungsi ereksi.

    6. Mitos: Disfungsi ereksi adalah 'berada di kepala'
    Fakta: Sekalipun disfungsi ereksi memiliki penyebab psikologis, misalnya karena cemas, stres, perasaan bersalah tentang seksual, masalah dalam hubungan, perasaan terhadap pasangan dan depresi, tapi kini diketahui sekitar 80 persen permasalah memiliki sebab yangberhubungan dengan masalah fisik.
    7. Mitos: Disfungsi ereksi adalah problem fisik semata
    Fakta: Disfungsi ereksi adalah masalah kompleks, gabungan antara kognitif, perilaku, emosi, sosial dan komponen fisik.
    Penyebab utama disfungsi ereksi adalah fisik atau psikologis. Problem fisik contohnya kondisi pembuluh darah, efek alkohol yang berlebihan, efek samping pengobatan, diabetes, fungsi saraf yang abnormal, kekurangan hormon, operasi pengangkatan prostat karena kanker dan merokok.
    Kondisi yang berkaitan dengan fisik ini bisa diobati. Disfungsi ereksi dengan kasus psikologis hanya sekitar 20 persen.

    8. Mitos: Kesulitan ereksi akan berlalu
    Fakta: Disfungsi ereksi adalah persoalan medis dengan solusi pengobatan. Sama halnya dengan terapi yang harus diterima untuk mengobati kondisi seperti tekanan darah tinggi, disfungsi ereksi juga harus diobati.
    Bila dibiarkan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis, termasuk perasaan malu, kehilangan atau minder.

    9. Mitos: Disfungsi ereksi tidak berpengaruh pada kesehatan dan mulai belajar menerima kondisi tersebut
    Fakta: Disfungsi ereksi bisa menjadi sumber stres emosi yang mengarah pada minder, kehilangan atau menurunkan rasa percaya diri, kecemasan, dan depresi.
    10. Mitos: Disfungsi ereksi hanya mempengaruhi pria
    Fakta: Jika disfungsi ereksi tidak diatasi dengan seksama, pasangan dalam berhubungan juga akan merasakannya. Kecenderungan untuk menghindari kontak seksual seringkali menyebabkan pasangan merasa tidak lagi dicintai, tidak diinginkan dan tidak menarik lagi.
    11. Mitos: Pria harus mengunjungi dokter berulang kali sebelum akhirnya memulai terapi
    Fakta: Dalam beberapa kasus, konsultasi tunggal mungkin merupakan hal yang terjadi pada pria yang langsung memulai terapi atas kasus disfungsi ereksi yang dialaminya.
    12. Mitos: Tidak ada gunanya mencari pengobatan karena disfungsi ereksi tidak mudah diobati
    Fakta: Pada sebagian besar kasus, disfungsi ereksi bisa secara sukses diobati. Karena itu penting untuk para pria mencari pertolongan dokter, sehingga mereka bisa menolong diri sendiri, pasangan dan menyelamatkan hubungan dari kegagalan.
    13. Mitos: Mencari pertolongan untuk kesulitan ereksi meliputi tes yang memalukan dan tidak nyaman
    Fakta: Meskipun seringkali memalukan untuk pria membicarakan masalah seksual dengan dokternya, mencari pertolongan untuk disfungsi seksual bisa cukup bermanfaat.
    Dokter biasanya melaksanakan sejarah kesehatan seiring sejarah seksual, dan akan menanyakan beberapa hal terkait gaya hidup. Hanya beberapa pemeriksaan standar kesehatan yang biasanya dibutuhkan, seperti tes laboratorium darah dan urin.
    Tes ini membantu mengidentifikasi beberapa kasus medis yang mungkin membutuhkan terapi.

    Sumber : detikhealth detik.com

    Share |

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Kami Haturkan Terimakasih telah berkunjung ke Mix The Mix Jika ada link foto yang tidak terbuka / terlihat mohon memberitahu kami di komentar agar bisa langsung diperbaiki. Saran, Kritik, Pertanyaan , Request Artikel atau Kirim artikel silahkan via email ke nsugihono@yahoo.com

    Mix New Post »»»